teruntuk ”IBU”


Segenap kasih yg tak pernah berakhir… mengalir disetiap titik darah di raga ini…
Bagai roda jagat yang tak berhenti berputar…
Tak terhingga hingga masa terhenti nanti. . .

Ibu..,
Maaf, aku sering membuat benang kusut yang harus kau urai berjuta kali. . .

Ibu ..,
Maaf, aku sering menusukkan duri di hatimu hingga nyeri. . .

Ibu ..,
Maaf. . . .
Maaf. . . .
Maaf. . . .

SujudKu di telapak kakimu…
Mohon maaf aku yg belum mampu merangkai senyumMu…
Hanya tekat yang kini aku paku…
Suatu hari aku akan membanggakanMu. . . .

DUNIA BERDUKA LAGI

Dunia ini menangis lagi…
Di goncang prahara mencabik asa…
Mungkin murka sang pemilik bumi…
Atas perbuatanMu hai manusia. . .

Dunia ini berduka lagi…
Di timpa bencana dahsyat melanda…
Tiada tempat aman sembunyi…
Dari jari-jari yang maha esa…

Gempa,
Sunami,
Banjir bandang,
Longsor,
Hanyalah secarik lembaran cerita…
Hingga tiba masaNya…
Kehancuran alam semesta. . .

Tuhan,
Bimbing aku dengan caraMu…
Apapun yang terbaik menurutMu…
Hingga nanti habis masaKu. . .

SAATNYA TUK TERLELAP


TerbangKu terawang jatuh sunyi…
Hingga netra mengeluh nyeri. . .
Tanpa rasa ku jelajah sepi…
Hingga dentang menandakan pagi. . .

Tlah sampai waktu menyambut mimpi. . .
Setelah hari menguras raga…
Tinggal asa harap tak henti. . .
Hari esok lebih berwarna…

Tuhan,
Rengkuh aku malam ini. . .
TemaniKu hingga esok datang…

Amin. . .
Amin. . . .
Amin. . . . .

KENANGAN YANG KEMBALI

Masa itu kembali lagi kini. . .
Dalam mimpi mengkoyak kenangan yang terkunci. . .
Ronamu jelas tergambar kembali. . .
Yang kala itu temaniKu merangkai hari. . .

Mengapa?
Mengapa kini kembali?
Setelah tak mungkin terUlang lagi. . .
Setelah kuBisa mengubur dalam di hati. . .

Sakit,
Perih,
Sesal,
Hanya itu yg kurasa kini… . .

Hanya satu tekatku ku paku. . .
Jika nanti datang bidadari lagi. . .
Kan ku rengkuh erat di kalbu. . .
Dan tak kan ku lepas lagi terpatri janji.

TTM ( teman tapi muslihat )

hai teman…
Masih adakah dariMu yang nyata?
Atau hanya senyum fatamorgana yang kau beri?
Sedang di balik telingaku kau mencibir kesana kemari. . .

Hei teman…
Kenapa tak kau ludahi saja mukaku ini?
Kenapa tak kau tuturkan saja bila kau benci?
Biar semua jelas,
biar semua tuntas. . .

Hai teman…
Asal kau tau saja,
TopengMu tak bisa tutupi bangkaiMu,
Walau sejuta alibi kau beri,
Tetap saja ku tau dari bisik angin yang berhembus. . .

Hai teman…
Kau selalu bilang kalau kau teman,
Tapi polah tingkahmu mengisaratkan lawan. . .

Hei teman…
Dasar kau teman tapi muslihat.
Pergi saja kau!
Enyah saja kau!
Musnah saja kau!

Ballada lelaki yang luka

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, mama!
Akan disatukan dirinya
dengan angin gunung.
Sempoyongan tubuh kerbau
menyobek perut sepi.
Dan wajah para bunda
bagai bulan redup putih.

Ajal! Ajal!
Betapa pulas tidurnya
di relung pengap dalam!
Siapa akan diserunya?
Siapa leluhurnya?
Lelaki yang luka
melekat di punggung kuda.

Tiada sumur bagai lukanya.
Tiada dalam bagai pedihnya.
Dan asap belerang
menyapu kedua mata.
Betapa kan dikenalnya bulan?
Betapa kan bisa menyusu dari awan?
Lelaki yang luka
tiada tahu kata dan bunga.

Pergilah lelaki yang luka
tiada berarah, anak dari angin.
Tiada tahu siapa dirinya
didaki segala gunung tua.
Siapa kan beri akhir padanya?
Menapak kaki-kaki kuda
menapak atas dada-dada bunda.

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, mama!
Meratap di tempat-tempat sepi. Dan di dada:
betapa parahnya.

Ballada petualang

– masihkah berair sumur tua?
+ ya manis, ya …
– apakah kakak sudah di pinang?
+ ya manis, ya ya …

Dua gagak terbang di muka.
Dengan tatapan mata jauh ia berjalan mengulum kata.

Mama, betapa kecil ia!
Dan berjalan sendiri saja.

– mereka kata di rumah hitam semua.
+ ya manis, ya ya …
– jalanan tanpa bebuah tanpa pohonan.
+ ya manis, ya ya …

Menapak ia menapak adalah rindu di tiap tindak.
Kerna tuju erat di peluknya tiada ia pengin berpaling.

Mama, betapa tegak ia.
Buah asam gugur di jalan ia pungut dengan tangan …
Oi! Betapa disuka kecutnya!

– orang cerita dua kubur di bukit.
+ ya manis, ya ya …
– anak lelaki tak tinggal di rumah pusaka.
+ ya manis, ya ya …

Kerna akan diumpat detak jantungnya, tiada ia akan bisa balik.
Lalu ia pun menadah nasibnya.

Kampung tiada lagi berwarna yang dulu, berkata para tetangga :
– anak lelaki yang baik itu mengapa tiada balik-balik juga?
( RENDRA ).