Ballada petualang

– masihkah berair sumur tua?
+ ya manis, ya …
– apakah kakak sudah di pinang?
+ ya manis, ya ya …

Dua gagak terbang di muka.
Dengan tatapan mata jauh ia berjalan mengulum kata.

Mama, betapa kecil ia!
Dan berjalan sendiri saja.

– mereka kata di rumah hitam semua.
+ ya manis, ya ya …
– jalanan tanpa bebuah tanpa pohonan.
+ ya manis, ya ya …

Menapak ia menapak adalah rindu di tiap tindak.
Kerna tuju erat di peluknya tiada ia pengin berpaling.

Mama, betapa tegak ia.
Buah asam gugur di jalan ia pungut dengan tangan …
Oi! Betapa disuka kecutnya!

– orang cerita dua kubur di bukit.
+ ya manis, ya ya …
– anak lelaki tak tinggal di rumah pusaka.
+ ya manis, ya ya …

Kerna akan diumpat detak jantungnya, tiada ia akan bisa balik.
Lalu ia pun menadah nasibnya.

Kampung tiada lagi berwarna yang dulu, berkata para tetangga :
– anak lelaki yang baik itu mengapa tiada balik-balik juga?
( RENDRA ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s