Segenap kasih yg tak pernah berakhir… mengalir disetiap titik darah di raga ini…
Bagai roda jagat yang tak berhenti berputar…
Tak terhingga hingga masa terhenti nanti. . .
Ibu..,
Maaf, aku sering membuat benang kusut yang harus kau urai berjuta kali. . .
Ibu ..,
Maaf, aku sering menusukkan duri di hatimu hingga nyeri. . .
Ibu ..,
Maaf. . . .
Maaf. . . .
Maaf. . . .
SujudKu di telapak kakimu…
Mohon maaf aku yg belum mampu merangkai senyumMu…
Hanya tekat yang kini aku paku…
Suatu hari aku akan membanggakanMu. . . .
Masa itu kembali lagi kini. . .
Dalam mimpi mengkoyak kenangan yang terkunci. . .
Ronamu jelas tergambar kembali. . .
Yang kala itu temaniKu merangkai hari. . .
Mengapa?
Mengapa kini kembali?
Setelah tak mungkin terUlang lagi. . .
Setelah kuBisa mengubur dalam di hati. . .
Sakit,
Perih,
Sesal,
Hanya itu yg kurasa kini… . .
Hanya satu tekatku ku paku. . .
Jika nanti datang bidadari lagi. . .
Kan ku rengkuh erat di kalbu. . .
Dan tak kan ku lepas lagi terpatri janji.
Dimana kiblat itu…
Dimana kejora itu…
Tak tampak kini…
Hingga aku hilang arah. . . . .
Tak setitik pun terang berpijar…
Tak setiup pun angin berhembus…
Tak tampak kini…
Hingga aku hilang arah. . .
Hilang sudah asa ini…
Hingga hidupku trasa tlah pergi,
Hingga nafasku seakan tak berarti…
Karena kini aku telah hilang arah. . .
Ya tuhan…
Tolong dirikanlah soko guru jiwaku yg telah rubuh,
Biar ragaku tak kosong kembali…
Biar hidupku berwarna kembali.. . ..
Biar kudapat melangkah lagi.
Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, mama!
Akan disatukan dirinya
dengan angin gunung.
Sempoyongan tubuh kerbau
menyobek perut sepi.
Dan wajah para bunda
bagai bulan redup putih.
Ajal! Ajal!
Betapa pulas tidurnya
di relung pengap dalam!
Siapa akan diserunya?
Siapa leluhurnya?
Lelaki yang luka
melekat di punggung kuda.
Tiada sumur bagai lukanya.
Tiada dalam bagai pedihnya.
Dan asap belerang
menyapu kedua mata.
Betapa kan dikenalnya bulan?
Betapa kan bisa menyusu dari awan?
Lelaki yang luka
tiada tahu kata dan bunga.
Pergilah lelaki yang luka
tiada berarah, anak dari angin.
Tiada tahu siapa dirinya
didaki segala gunung tua.
Siapa kan beri akhir padanya?
Menapak kaki-kaki kuda
menapak atas dada-dada bunda.
Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, mama!
Meratap di tempat-tempat sepi. Dan di dada:
betapa parahnya.
Para lelaki telah keluar di jalanan
dengan kilatan-kilatan ujung baja
dan kuda-kuda para penyamun
telah tampak di perbukitan kuning
bahasa kini adalah darah.
Di belakang pintu berpalang
tangis kanak-kanak, doa perempuan.
Tanpa menang tiada kata pulang
pelari akan terbujur di halaman
di tolak bini dan pintu berkunci.
Mendatang derap kuda
dan angin bernyanyi :
– ‘kan kusadap darah lelaki
terbuka guci-guci dada baja
bagai pedagang anggur dermawan
lelaki-lelaki rebah di jalanan
lambung terbuka dengan geram serigala!
O, bulu dada yang riap!
Kebun anggur yang sedap!
Setengah keliling memagar
mendekat derap kuda
lalu terdengar teriakan peperangan
dan lelaki hidup dari belati
berlelehan air amis
mulut berbusa dan debu pada luka.
Pada kokok ayam ketiga
dan jingga langit pertama
para lelaki melangkah ke desa
menegak dan berbunga luka-luka
percik-percik merah, dada-dada terbuka.
Berlumur keringat di ketuk pintu.
– siapa itu?
– lelakimu pulang, perempuan budiman!
Perempuan-perempuan menghambur dari pintu
menjilati luka-luka mereka
dara-dara menembang dan berjengukan dari jendela.
Lurah kudo seto
bagai trembesi bergetah
dengan tenang menapak
seluruh tubuhnya merah.
Sampai di teratak
istri rebah bergantung pada kaki
dan pada anak lelakinya ia berkata :
– anak lanamg yang tunggal!
Kubawakan belati kepala penyamun bagimu
ini, tersimpan di daging dada kanan. (oleh: RENDRA)
Bila bulan limau retak
merataplah patima perawan tua.
Lari ke makam tanah mati
buyar rambutnya sulur rimba
di tangan bara dan kemenyan.
Patima! Patima!
susu dan mata padat sihir
lelaki muda sepikan pinangan
di panasi guna-guna.
Patima! Patima!
ditebahnya gerbang makam
demi segala peri dan puntianak
diguncangnya segala tidur pepokok kemboja
dibangunkan segala arwah kubur-kubur rengkah
dan dengan suara segaib angin padang belantara
dilagukan masmur dan leher tembaga
mendukung muka kalap tengadah ke pusat kutuk:
– duh bulan limau emas, jejaka tampan desak-desakkan wajahmu ke dadaku rindu biar pupus dendam yang kukandung
panas bagai lahar, bagai ludah mentari.
– patima yg celaka! patima!
duka apa, siksa apa?
– peri-peri berapi, hantu-hantu kelabu himpun kutuk, sihir dari angin parang telanjang dan timpakan atas kepala kasan!
– akan rontok asam dan trembesi berkembang kerna kasan lelaki bagai lembu, bagai malam dosa apa, laknat apa?
– perihnya, perihnya! luka mandi cuka kasan tinggalkan daku, meronta paksaku terbawa bibirnya lapis daging segar mentah penghisap kuat kembang gula perawan.
Dan angin berkata:
– berlindung tudung senja mendung berkendara pedati empat kuda bersama anak bini ke barat kota di tanah rendah
– dan di tinggalkan daku bersama berahi putih membelai kambing-kambing jantan di kandang.
(oleh nyalanya patima rebah)
beromong angin, dedaun gugur dan rumputan:
– bini kasan ludahnya air kelapa.
– dan mata tiada nyala guna-guna.
– anaknya tiga putih-putih bagai ubi yg subur.
– kasan, ya, kasan! Ku tahu siapa kasan!
Pada malam bintang singgah di matanya
lelaki semampai berdarah panas
di dadanya tersimpan beberapa perawan
dan di atas diriku ini kusaksikan
lima dara begitu pasrah dalam pejam mata
berikan malam berbunga, rintihnya bagai nyanyi
dan kasan mendengus bagai sampi.
– kutuknya menunggu pada patima!
– tanpa cinta diketuknya jendela perawan tua itu.
– datang kutuknya! Datang kutuknya!
– patima menguncinya bagi hati sendiri
sekali di rasa di perturutkannya
di damba bagai bunga, diusapi bulu kakinya
bagi dirinya cuma! bagi dirinya cuma!
: maunya.
– datang kutuknya! datang kutuknya!
– dan kini ia lari kerna bini bau melati
lezat ludahnya air kelapa.
Bau kemenyan dan kemboja goncang
bangkit patima mencekau tangan reranting tua
menjilat muka langit api pada mata
dilepas satu kutuk atas kepala kasan! Ya, kasan!
Dan kasan berkendara pedati empat kuda
terenggut dari arah dalam buta mata
terlempar ke gunung selatan tanah padas
meraung anak bini, meringkik kuda-kuda
dan semua juga kuda dikelami buta mata.
Datang kutuknya! Datang kutuknya!
Pada malam- malam bergemuruh di tanah kapur selatan
deru bergulung di punggung gunung-gunung
bukan deru angin jantan dari rahim langit
: deru kasan kembara berkendara pedati empat kuda
larikan kutuknya lekat, kecut cuka panas bara. (RENDRA).
Di keheningan ku merenung,
menoleh jejak2 langkah yg mulai tersapu angin,
maha dahsyat badai nan gelap terlihat membuntuti,
tergelimpang jasat2 anyir bercecer di stiap jengkal jalanku.
Ya alloh sujudku di hadapmu…,
tundukku kaku meratap padamu,
di hantui raja iblis yg slalu menusukku dari belakang,
tapi ku tetap yakin melangkah di seutas benang putih menuju padamu.
Ya alloh taubatku untukmu….,
inginku melangkah ke cahaya itu,
jalan penuh wangi bunga,
jalan yg penuh malaikat tertunduk hormat,
jalan penuh kemulian menuju singasanaMu.
Ya alloh, taubatku untukMu ya alloh…
Meski di depan tampak jurang tanpa dasar,
meski lautan tak bertepi menghadang,
sejangkah menujumu adalah kenikmatan tak terbatas,
meski ku harus kandas di tengah pelabuhan taubatku…
Picik tutur kata di skitar,
tatap tatap penuh fitnah menghakimi,
caci maki sumpah serapah menyumpal telinga,
mengikis ketegaran jiwa hingga jugrug.
TerperosokKu… kedalam lembah nan pekat,
seperti dalam gorong2 yg berbau anyir,
di tempat ternista alam mayapada.
InginKu bangkit kembali…
Merangkak di jalan setapak penuh duri,
bergelantung d akar tuk capai puncak,
menyongsong merekahNya sang mata jagat.
Inginku tegak kembali…
menghirup kembali norma2 kebenaran,
dan teriakan teriakan kebebasan penuh mulia._
Harum apa ini?
Aroma wangi yg menusuk hidung tembus Ke hati. . .
Siapakah gerangan di sana. . .?
Mungkin kah kau bidadari yg di selubungi parfum surga. . .
Dan mungkinKah diriku yg hina ini dapat bersanding denganNya?
Ku rndu snyumMu yg biaskn wujud surga,
ku rndu candaMu yg buat mimpiKu bak bianglala…
Tp sayang, smua itu kini tinggal bayang maya belaka…
DiriMu kini tlah terhapus kelamNa sang waktu…
Tnggal knanganlah yg di bangun si bunga tidur…
ku mrenungi k’jnuhanku..,
km datang saat it jg km mlayang,
sprtinya km tk p’dulikanku.
mungkin…,
mungkin hanya k’munafikanku yg tk dpt kuhentikan.
kau pergi bgitu saja tk ada satu pun yg tersisa,
kau brikan aku kekosongan yg tk brarti,
dan prmainan2 dlm khayal blaka.
sungguh egoisnya km…
saat2 aku hrs brtempur,
kau trbang sprti burung,
hingga aku sulit mengpaimu.
Aku sadari…
Aku tk terlalu pandai mengpaimu,
yg aku bisa cuma sdkit ilmu darimu.
sdang aku tk bgitu setia menyelusurimu, smua itu tk dpt ku jwb,
aku hanya mendambakan sesuatu yg indah,
yg membuat smua orang trtawa.
aku ingin km berhasil ku tlusuri,
hingga…
hingga aku tk hrs brtaya…
dptkah aku Menggapaimu…??